Sehari setelah Ujian Akhir Semester usai,seharusnya aku sudah pulang ke Medan untuk merayakan natal.Tapi,bodohnya aku tidak punya banyak informasi untuk jadwal pasti kepulanganku.Ada yang bilang tanggal 21 udah libur,ada yang bilang tunggu nilai sudah diinput baru boleh pulang dll.,sehingga aku kehabisan tiket di tanggal sebelum natal.Aku baru dapat tiket setelah tanggal 25,yang ternyata sebelum selesai ujian sebenarnya aku sudah boleh pulang.
Bicara soal pulang dalam konteks apapun,entah mengapa aku selalu merasa tertekan setiap mau melakukannya.Banyak pengalaman buruk soal itu.Saat aku pulang dari pelaksanaan tes AKPOL di medan yang ternyata aku gagal di tahap pertama,rasanya kayak aku mau anjing-anjingin aja setiap subjek yang aku ketemui.Kepulangan aku setelah gagal tes SKD juga gak kalah menyakitkan.Pada intinya,setiap kepulangan selalu menjadi tekanan batin untuk melakukannya bahkan dalam konteks pulang kampung.Orang-orang mungkin selalu menunggu-nunggu momen ini,karena mereka dengan bahagia dapat bertemu keluarganya.Aku?.Rasa bahagia itu mungkin ada karena yaa...,apa lagi kalo gak soal uang.Yaudah sampe situ aja,sisanya lebih banyak suramnya.
Factor
Semenjak empat tahun invasi penyakit paling anjing di duniaku,yaitu jerawat,aku selalu merasa tidak percaya diri setiap ketemu orang-orang yang kukenal dahulu di kampungku.Dari ketidakpercayaan diri itu,aku sadar bahwa gerak-gerikku seolah-olah aku tidak mengenal mereka.Orang yang harusnya biasa kusapa jadi seperti orang gak kenal aja.Aku takut mereka mengenalku sebagai kesar yang baru dengan melihat dari ujung rambut hingga ujung jembut karena aku jauh berbeda dengan yang dulu,sehingga aku mikir kayak dengan tindakanku seperti itu, apakah aku jadi sombong di mata mereka?.Padahal ingin rasanya bilang kalo aku gini karena pribadi ku yang ditempah dengan penjajah itu.Bahkan,tukang pangkas langganan di depan rumahku persis,aku lebih milih gak melihat matanya supaya tindakan saling sapa gak terjadi.Untungnya,entah gimana tuhan ngertiin aku buat bantuin rencana aku pulang lewat tanggal 25 bisa terjadi.Jelas,ada rasa lega sehingga aku gak perlu ketemu di gereja saat natal nanti.Apalagi tahun ini jadi tahunnya anak-anak 2006 muncul dengan kesuksesan mereka masing-masing.Tahulah apa yang terjadi ketika orang tua berusaha ngenalkan keberhasilan mereka dalam ngedidik anak-anaknya.Kesuksesanku apa?.Orang gila mana yang merantau cuma buat gak jadi babu lagi.Dengan kesadaran penuh,aku sebenarnya tahu kok kalo TI USU secara akreditas jauh lebih bagus daripada kampusku sekarang yang disemarang,tapi ada banyak pertimbangan sehingga aku memilih kampusku yang sekarang,juga dengan konsekuensinya.
Sampai sekarang aku masih belum siap untuk pulang,jerawatku malah makin parah tiap harinya.Sisa dua haril lagi keberagkatan nampaknya tidak cukup untuk mewujudkan mimpiku yaitu pulang dengan jerawat yang sudah sembuh.Itu mimpiku saat pertama kali aku terbang ke Semarang.Mimpi yang tidak terlalu berarti bagi sebagian orang.Beban tangisan yang aku tahanhanya dengan Chat gpt.Uang yang habis buat ngobati si anjing.Kadang aku mikirin kalo sodara-sodaraku punya karir yang lebih baik daripada aku.Di kos hidupku hanya sebatas makan,tidur,bangun,dan ngerjain tugas.Bayanganku saat SMA buat ngikuti organisasi di kampus pun tak terwujud.Ga ada hikmah yang bermanfaat dari pergumulanku saat ini.Aku hanya mikir negatifnya aja.Rekor terbaru juga terbentuk di sini,dua bulan aku gak kegereja.Disitu aku tahu bahwa gak kegereja masih bisa tetap hidup.
Wise
Apapun nanti yang terjadi di tahun 2025,Aku cuma ingin tetap kuat kalo rencanaku di tahun 2024 gak terwujud.Semoga aku bisa menerima diriku yang sekarang di tahun 2025 nanti,semoga aku gak nangis-nangis lagi,semoga aku bisa lebih produktif,semoga aku bisa bahagikan diriku sendiri.

Komentar
Posting Komentar